Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Keluarga Yasir: Yasir, Sumayyah dan Ammar

Pada suatu pagi yang sejuk, cahaya mataharinya dan udaranya
menyegarkan. Salah satu kafilah yang datang dari
Yaman telah tiba di serambi Mekah. Ketika Yasir ibnu Amir al-Kina'i melihat
Ka'bah, ketinggiannya membuatnya kagum.
Hatinya memuji karena senang melihatnya karena dahulu matanya tidak pernah senang melihatnya. Kedatangan
Yasir ke Mekah bukanlah untuk berdagang seperti halnya orang-orang kafilah. Ia datang ke Mekah bersama dua
saudaranya, Harits dan Malik, untuk mencari saudara mereka yang hilang sejak beberapa tahun lalu yang tidak diketahui
jejaknya.
Tiga orang pemuda ini berangkat mencari saudaranya di setiap tempat dan menanyakan kepada setiap kelompok
masyarakat. Akhirnya, ketika mereka putus asa untuk menemukannya, tujuan mereka pun berbeda. Harits dan Malik
mereka kembali ke padang rumput masa kanak-kanaknya, dan tempat menggembala di waktu kecil yang memberi
harapan baik di Yaman. Sedangkan Yasir terpikat
dengan Mekah dan terbujuk untuk menjadikan Mekah sebagai tempat
tinggal dan negeri untuk dirinya.
Ketika menjadikan Mekah sebagai tempat tinggalnya, Yasir ibnu Amil al-Kindi tidak mengetahui kemuliaan apa yang
ditakdirkan untuknya. Dan dari rusuknya, akan datang seorang pemuda yang dengannya persimpangan dunia akan
tampak buruk, ketika dunia ingin berhias untuk manusia. Karena Yasir tidak memiliki kerabat yang menjaganya dan
keluarga yang menghalanginya dari musuh, maka untuk orang asing sepertinya, harus bersekutu dengan salah seorang
pemuka masyarakat agar hidupnya kukuh secara aman dan tenteram di komunitas masyarakat yang tidak memberikan
tempat bagi orang-orang lemah.
Abu Hudzaifah melihat Yasir memiliki tabiat yang luhur. Yasir berbadan tegap yang membuatnya dicintai oleh Abu
Hudzaifah. Maka ia pun menikahkannya dengan budaknya yang dipanggil "Sumayyah ibnu Khitbah." Buah pertama
dari pernikahan itu adalah seorang anak yang membuat orang tuanya sangat gembira. Mereka memanggilnya Ammar.
Kegembiraan mereka semakin besar ketika Abu Hudzaifah membebaskannya dan memerdekakan budaknya.
Keluarga itu hidup dalam perlindungan bani Makhzum dengan tenang dan gembira. Hari-hari pun berlalu dan tahun demi
tahun terlewati, tiba-tiba Yasir dan Sumayyah menjadi orang tua yang berumur, sedangkan Ammar menjadi pemuda
yang pendengaran dan penglihatannya telah sempurna.
Kemudian bumi bersinar dengan cahaya Tuhannya. Sinar pun terpancar dari tempat-tempat air mengalir dan memenuhi
suasana dengan kebaikan dan kebajikan. Mengisinya dengan keadilan dan perbuatan baik. Seorang Nabi yang ummi
berdiri menampakkan risalah Tuhannya dan memberi peringatan kepada kaumnya serta memberi mereka kabar
gembira. Beliau mengajak kepada sesuatu yang di dalamnya ada kemuliaan dunia dan kebahagiaan dunia serta akhirat.
Ammar ibnu Yasir mendengar berita mengenai dakwah baru dari mulut orang-orang. Ia pun memasang telinga, hati, dan
akalnya
untuk mendapatkan berita itu. Akan tetapi, ketika mendapatkan
berita itu hanya sedikit yang sampai
kepadanya, dan kontradiktif tidak sesuai dengan kenyataannya di dalam dirinya, ia berkata, "Celaka kau wahai Ammar,
apa yang membuatmu sangat haus, padahal jalan menuju air itu dekat denganmu? Mari kita menuju ke pemilik risalah.
Mari kita ke Muhammad ibnu Abdullah, karena ia dan para sahabatnya memiliki berita yang pasti benar."
Pada satu waktu, Ammar ibnu Yasir pergi ke rumah al-Arqam ibnu Abu al-Arqam. Di sanalah ia merasa gembira bertemu
dengan Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam.. Ia mendengar dari beliau sesuatu yang menggetarkan
hatinya dan dengan petunjuk beliau, ia mengerti sesuatu yang mengisi hatinya dengan hikmah dan cahaya. Ia pun
melebarkan tangannya dan berkata, "Aku bersaksi bahwa engkau adalah hamba dan Rasul-Nya."
Ammar ibnu Yasir menghadap ibunya, Sumayyah, untuk mengajaknya memeluk Islam. Alangkah cepatnya ia
mengabulkan ajakannya,
sampai seakan-akan sudah ada perjanjian di antara keduanya. Kemudian ia menghadap
ayahnya, Yasir, mengajaknya kepada sesuatu
yang kepadanya pula ia mengajak ibunya. Maka sambutan ayahnya
sama cepatnya dengan sambutan ibunya. Dengan Islamnya
keluarga yang diberkati ini, tiga planet berkumpul menuju
sumber cahaya yang sinarnya masih saja memenuhi hati para mukminin hingga saat ini dan akan terus-menerus seperti
itu dengan izin Allah hingga Allah mewarisi bumi dan orang yang menghuninya.

Berita keislaman keluarga Yasir tersebar di bani Makhzum. Kemarahan mereka pun meluap-luap. Mereka bersumpah
akan mengembalikan mereka dari Islam atau membawa mereka ke tempat kehancuran. Maka mereka mulai menciduk
kedua orang tua dan anaknya itu ke tempat air mengalir yang di dalamnya ada pasir. Ketiga orang itu dipakaikan baju
besi dan hendak dilelehkan dengan teriknya sinar matahari. Mereka tidak memberikan air dan menyiksa dengan
pukulan, sehingga tenggorokan ketiganya kering, keringatnya basah, kulitnya terkelupas, dan darahnya mengalir.
Pada hari itu mereka meninggalkannya untuk mengulangi kembali perlakukan kepada mereka di siang hari berikutnya.
Rasul pun melewati mereka pada suatu hari. Saat itu, orang bani Makhzum menyiksa mereka seperti siksaan
sebelumnya. Maka membekaslah dalam dirinya bahwa beliau tidak memiliki kekuatan dan pertolongan
untuk mereka.
Beliau berdiri di hadapan mereka dan berkata, "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena tempat kalian adalah surga."
Maka tenanglah jiwa-jiwa yang disiksa itu. Air mata mereka pun kering karena gembira dan tak berkedip karena terkejut.
Senyum kerelaan pun menghapus wajah mereka yang letih. Perkara dua orang tua itu belumlah selesai. Sumayyah
dilewati oleh Abu Jahal, sedangkan ia sedang disiksa. Maka Abu Jahal mencacinya dengan cacian yang paling keji dan
mendengarkannya
dengan pembicaraan yang menyakitkan. Sumayyah tidak menoleh kepadanya. Maka Abu Jahal
mencabut tombaknya lalu menusukkannya ke bagian perut Sumayyah. Keluarlah ujung tombak dari punggungnya. Ialah
yang menjadi orang syahid pertama dalam Islam. Cukuplah baginya dengan keagungan dan kemuliaan itu. Adapun
Yasir, mati karena siksaan. Ia bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.
Siksaan kepada Ammar semakin berat setelah kedua orang tuanya mati syahid. Sungguh para algojo telah melampaui
batas dalam menyiksanya. Pada suatu hari, ia menghadap Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan
buruk, sedih, dan wajahnya berubah. Ia berusaha
untuk memandang Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi
wasallam dan memenuhi matanya dengan diri beliau. Tetapi ia tidak bisa mengangkat pandangannya
kepada Nabi.
Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam pun berkata, "Ada apa denganmu Ammar?" Amar menjawab,
"Buruk semua wahai Rasulullah."
Nabi berkata lagi, "Dan kenapa itu terjadi?" Ammar menjawab, "Kemarin aku disiksa hingga kepayahan dan bahaya.
Seandainya terjadi kepada gunung, maka akan terpecah. Musuh-musuh Allah itu belum merasa cukup dengan apa yang
mereka perbuat kepadaku dengan panasnya terik matahari. Mereka membakarku dengan api. Mereka masih saja
memaksaku untuk mencacimu dan menyebut tuhan-tuhan mereka dengan kebaikan, hingga aku pun melakukannya."
Kemudian ia mulai menangis tersedu-sedu merobek hati, maka Nabi Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam
bertanya kepadanya, "Bagaimana kau merasakan hatimu?"
Dia menjawab, "Tenang, wahai Rasulullah." Rasul pun berkata, "Tidak mengapa dan kalau mereka kembali
melakukan hal seperti itu, maka katakan seperti yang mereka katakan."
Kemudian Allah pun memuliakan Ammar dan turunlah ayat Al-Qur'an tentangnya. Allah berfirman didalam QS:an-Nahl
[16]: 106 (yang artinya): "Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah),
kecuali orang yang dipaksa kafir. Padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang
yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar."

Ketika Rasulullah mengizinkan para sahabat beliau untuk berhijrah
ke Madinah, Ammar ibnu Yasir paling depan di
antara orang yang berhijrah ke Madinah karena melarikan diri dengan agamanya. Baru tiba di Quba, tempat orang-orang
berhijrah singgah, ia mengajak mereka untuk membangun masjid untuk melaksanakan shalat. Mereka pun mengabulkan
permintaannya. Masjid yang didirikan oleh Ammar ibnu Yasir menjadi masjid yang pertama kali dibangun dalam Islam
dan cukuplah menjadi mukmin pertama dan keutamaannya bagi Ammar.
Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam yang agung hijrah ke Madinah, Ammar merasa senang dan
berbahagia dengan hal itu, seperti bahagianya
seorang kekasih kepada kekasihnya. Ia menemani beliau seperti halnya
menemaninya seorang sahabat kepada sahabat yang dicintainya,
sehingga hampir tidak berpisah dengannya di waktu
malam dan siang. Nabi Muhammad membalasnya dengan sangat mencintainya. Maka apabila ia datang, beliau berkata,
"Telah datang orang yang baik dan diperlakukan secara baik." Pada hari Perang Badar, Ammar berperang di bawah
bendera Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam dengan berani. Ialah muslim satu-satunya yang terjun dalam
perang ini, sedangkan kedua orang tuanya mukmin dan mati syahid.
Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam kembali ke sisi Tuhan dan kebanyakan orang-orang Arab keluar
dari Islam, Ammar memiliki sikap yang masyhur pada hari Yamamah. Hal itu terjadi karena ketika pembunuhan
di
kalangan sahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam gencar dilakukan dan kematian pun mulai merenggut
para penghafal Al-Qur' an. Bumi diguncangkan di bawah kaki kaum muslimin. Ketika itu, Ammar ibnu Yasir berdiri di atas
batu besar yang tinggi. Telinganya
dipotong dan tersisa melekat di kepalanya. Ia berkata, "Wahai sekalian kaum
muslimin, apakah kalian akan lari dari surga? Ikuti aku, ikuti, wahai kaum muslimin."
Kemudian ia pergi di depan mereka, sedangkan telinganya terayun-ayun di pipinya. Kemudian mereka menghafal Al-
Qur'an dengan hafalannya hingga Musailamah al-Kadzdzab dibunuh. Dan mulailah orang-orang kembali memeluk
agama Allah secara berbondong-bondong setelah mereka keluar dari Islam secara berbondong-bondong pula. Ketika
kekhilafahan dipimpin oleh al-Faruq, ia diangkat olehnya
menjadi pemimpin Kufah dan menyertakannya Abdullah ibnu
Mas'ud. Umar menulis surat kepada penduduk Kufah, "Setelah itu semua, sesungguhnya aku telah mengutus Ammar
sebagai pemimpin kalian, dan Abdullah ibnu Mas'ud sebagai guru dan menteri. Mereka berdua merupakan sahabat yang
utama dari Nabi kalian, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasallam, dengarkanlah mereka berdua dan ikutilah
langkah mereka." Kemudian Umar mencopotnya dan menjauhkannya dari kekuasaan
amir. Maka ketika bertemu
dengan Ammar, ia berkata, "Apakah yang aku lakukan menyakiti hatimu wahai Ammar?" Ammar menjawab, "Demi
Allah, sungguh mendapat kekuasaan
amir lebih menyakiti hatiku daripada hatiku disakiti ketika dijauhkan dari
kekuasaan amir. Semoga Allah meridhai Ammar ibnu Yasir. Dirinya dipenuhi dengan iman dari ujung kepalanya hingga
kedua telapak kakinya. Dan semoga Allah meridhai ayahnya,
Yasir, serta ibunya, Sumayyah. Sungguh, rumah mereka
adalah rumah keimanan."

Related Posts by Categories



1 komentar:

Unknown mengatakan...

Allahumma shalli alaa muhammad wa aali muhammad